![]() |
| Seremoni IPO Adaro Andalan Indonesia di BEI. Sumber: CNBC Indonesia |
UMKM Go Digital - PT Esa Medika Mandiri Tbk
(EMMI) menetapkan kisaran harga penawaran umum perdana saham (IPO) di level
Rp446 hingga Rp515 per saham.
Perusahaan distributor dan manufaktur alat kesehatan ini
menawarkan sebanyak-banyaknya 522,86 juta saham baru, setara 30% dari modal
ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Dengan rentang harga tersebut, EMMI berpotensi menghimpun
dana segar hingga Rp269,27 miliar yang akan digunakan untuk memperkuat
permodalan, melunasi pinjaman, dan ekspansi kapasitas usaha.
Penetapan harga ini disampaikan melalui prospektus awal yang
diterbitkan pada Minggu, 21 Juni 2026.
Masa penawaran awal atau bookbuilding berlangsung
pada 22-24 Juni 2026. Setelah itu, EMMI akan mengajukan pernyataan efektif ke Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) yang dijadwalkan terbit pada 30 Juni 2026.
Apabila proses berjalan sesuai rencana, masa penawaran umum
saham kepada publik akan dibuka pada 2-6 Juli 2026.
Penjatahan saham dijadwalkan pada 6 Juli 2026, distribusi
saham secara elektronik pada 7 Juli 2026, dan pencatatan resmi di Bursa Efek
Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2026 dengan kode saham EMMI.
Profil Bisnis dan Kapitalisasi Pasar
EMMI bergerak di bidang perdagangan besar alat laboratorium,
alat farmasi, dan alat kedokteran untuk manusia.
Perseroan berdiri sejak tahun 2000 dan telah melayani lebih
dari 200 rumah sakit serta fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia.
Perusahaan ini juga menjadi pemegang merek eksklusif
sejumlah teknologi medis global di Indonesia, dengan kemitraan bersama
prinsipal seperti BOWA, Medicon, Medtronic, Penlon, dan Air Liquide.
Dari sisi operasional, EMMI didukung satu kantor pusat di
Esa 8 Building, Gading Serpong, Tangerang, dua fasilitas pabrik bersertifikasi
CPAKB di Cikupa (Tangerang) dan Solo (Karanganyar, Jawa Tengah), empat kantor
perwakilan, serta tenaga pemasaran yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Berdasarkan struktur permodalan proforma, jumlah saham
beredar EMMI akan meningkat dari 1,22 miliar saham menjadi 1,74 miliar saham
setelah IPO selesai dilaksanakan.
Dengan rentang harga penawaran Rp446-Rp515 per saham,
perseroan diperkirakan memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp777,4 miliar
hingga Rp897,7 miliar saat resmi tercatat di BEI.
Dalam aksi korporasi ini, EMMI juga mengalokasikan
sebanyak-banyaknya 52,29 juta saham atau 10% dari total saham yang ditawarkan
untuk program Employee Stock Allocation (ESA) bagi karyawan perseroan.
EMMI telah menunjuk PT BRI Danareksa Sekuritas dan PT INA
Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi efek dengan skema full
commitment.
Rencana Penggunaan Dana IPO
Direksi EMMI menyampaikan bahwa seluruh dana hasil IPO,
setelah dikurangi biaya emisi, akan digunakan untuk tiga pos utama.
Pertama, sekitar Rp50 miliar dialokasikan untuk membayar
sebagian pokok pinjaman bank perseroan.
Kedua, sekitar 11,8% dana akan digunakan untuk belanja modal
berupa pembangunan gedung pabrik baru di kawasan Cikupa, Kabupaten Tangerang.
Porsi terbesar, yakni sekitar 68,7% dari total dana, akan
digunakan sebagai modal kerja operasional. Dana ini akan dipakai untuk
pembelian barang terkait proyek serta pengadaan bahan baku dan persediaan alat
kesehatan.
Dari porsi modal kerja tersebut, sekitar 6,6% dikhususkan
untuk membeli alat kesehatan terkait proyek softloan dari Kementerian
Kesehatan, sementara 93,4% sisanya untuk memperkuat stok alat kesehatan secara
umum.
Manajemen menegaskan, jika dana yang terkumpul dari publik
belum mencukupi seluruh kebutuhan tersebut, kekurangan akan ditutup menggunakan
kas internal perusahaan atau pendanaan tambahan melalui pinjaman perbankan dan
lembaga keuangan lain.
![]() |
| Pria memantau papan bursa saham. Sumber: Kompas Money |
Prospek Industri dan Pandangan Analis
Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI
Danareksa Sekuritas, Chory, menilai secara fundamental EMMI berada di sektor dengan
prospek pertumbuhan jangka menengah hingga panjang yang cukup baik, yakni
distribusi dan manufaktur alat kesehatan.
Pertumbuhan industri ini didorong oleh peningkatan belanja
kesehatan pemerintah, perluasan fasilitas kesehatan, program Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN), serta dorongan penggunaan produk dalam negeri
melalui Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Prospektus perusahaan menyebut pasar alat kesehatan
Indonesia diproyeksikan tumbuh dengan Compound Annual Growth Rate
(CAGR) sekitar 8,68% hingga tahun 2030.
EMMI sendiri telah mengantongi sertifikasi TKDN yang
berpotensi menjadi nilai tambah dalam mengikuti tender pengadaan pemerintah.
Untuk jangka panjang, EMMI berencana memperluas portofolio
bisnis ke segmen alat kesehatan habis pakai (consumables), salah satunya
produksi benang bedah, melalui kerja sama strategis dengan mitra global.
Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan pendapatan berulang
dan memperbaiki margin usaha, sekaligus mengurangi ketergantungan pada proyek
pengadaan yang bersifat tidak berulang.
Bagi calon investor, sejumlah aspek yang disarankan untuk
dicermati antara lain rekam jejak perusahaan, posisi kompetitif di industri,
rencana penggunaan dana IPO, serta valuasi saham dibandingkan potensi
pertumbuhan bisnis ke depan.
Informasi lengkap mengenai jadwal dan mekanisme pemesanan
saham EMMI dapat diakses melalui platform resmi e-IPO di e-ipo.co.id.
Disclaimer : Artikel ini bersifat informasional dan bukan merupakan rekomendasi atau saran keuangan. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor.




