![]() |
| Pantulan layar pergerakan IHSG anjlok pada kacamata. Sumber: Katadata |
UMKM Go
Digital - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik
menguat ke level 5.902 pada Kamis pagi, 25 Juni 2026, setelah sempat dibuka
melemah 0,22% ke posisi 5.871.
Penguatan ini terjadi hanya sehari setelah IHSG ambruk
3,56% ke 5.883,88 pada penutupan Rabu (24/6/2026), akibat sentimen negatif
dari hasil MSCI Annual Market Classification Review.
Pada pukul 09.02 WIB, indeks LQ45 turut melonjak 0,54% ke
level 581, dengan saham Barito Pacific (BRPT), Sumber Alfaria Trijaya
(AMRT), dan Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) memimpin penguatan pagi ini.
Mengutip data RTI, BRPT mencatat kenaikan 2,97%,
disusul AMRT yang menguat 1,81% dan CUAN yang naik 1,44%.
Rebound ini terjadi di tengah sebagian besar indeks acuan
yang justru menghijau pada pembukaan perdagangan Kamis, berbalik dari posisi
negatif IHSG di awal sesi.
Pergerakan ini menjadi sinyal awal bahwa pasar mulai
mencerna ulang sentimen negatif yang membebani indeks sehari sebelumnya.
Pelemahan tajam IHSG pada Rabu dipicu oleh pengumuman MSCI
pada 24 Juni 2026 yang mempertahankan status Indonesia di kelompok Emerging
Market, namun menyertakan peringatan bahwa sejumlah pelaku pasar global
menyampaikan kekhawatiran mendalam atas kelayakan investasi di dalam negeri.
MSCI menegaskan akan terus mengevaluasi konsistensi
implementasi kebijakan terkait, dan memberi sinyal bahwa jika tidak ada
kemajuan memadai hingga evaluasi indeks November 2026, lembaga itu dapat
membuka konsultasi untuk mereklasifikasi Indonesia dari Emerging Market
menjadi Frontier Market.
Potensi penurunan status tersebut menjadi perhatian investor
karena dapat memicu keluarnya dana asing dari pasar saham domestik, mengingat
banyak investor institusi global memiliki mandat investasi khusus pada negara
berstatus Emerging Market.
Pada penutupan Rabu, IHSG melemah 217,45 poin dengan
total nilai transaksi mencapai Rp15,05 triliun dan volume perdagangan 24,47
miliar saham, sementara sebanyak 646 saham memerah berbanding 103 saham yang
menghijau.
Aksi jual bersih investor asing tercatat sebesar Rp1,17
triliun pada hari yang sama, dengan saham BBRI, TPIA, AMMN, BMRI, dan BUMI
menjadi yang paling banyak dilepas.
Nilai tukar rupiah turut melemah ke kisaran Rp17.943 per dolar AS, menambah tekanan pada sentimen pasar domestik.
![]() |
| Tiga perempuan melihat layar saham. Sumber: Bloomberg Technoz |
Sejumlah analis memperkirakan tekanan jual masih dapat
berlanjut dalam jangka pendek meski pasar sempat rebound pagi ini.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyebut
posisi IHSG saat ini berada dalam pola wave (b) dari wave [iv], dengan potensi
pengujian area 5.723–5.847 sebelum berpeluang menguat kembali ke rentang
6.548–6.782, didukung level support di 5.784 dan 5.594 serta resistance di
6.286 dan 6.459.
Sementara itu, Retail Research Analyst BNI Sekuritas,
Muhammad Lutfi Permana, memproyeksikan support di kisaran 5.845–5.750
dan resistance di 6.010–6.070.
BRI Danareksa Sekuritas dalam ulasannya menyebut IHSG
berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area support 5.740–5.650, dengan
resistance terdekat di 6.000–6.100.
MSCI Annual Market Classification Review sendiri
merupakan evaluasi tahunan yang menentukan apakah suatu negara tetap berada di
kategori pasar tertentu, seperti Emerging Market, Frontier Market, atau
Developed Market, berdasarkan sejumlah kriteria seperti ukuran ekonomi,
likuiditas pasar, dan kemudahan akses bagi investor asing.
Status klasifikasi ini memiliki dampak nyata bagi pasar
saham suatu negara karena banyak dana investasi global, termasuk reksa dana
indeks dan exchange-traded fund (ETF), menyesuaikan portofolionya berdasarkan
kategori yang ditetapkan MSCI.
Jika Indonesia benar-benar diturunkan ke status Frontier
Market pada evaluasi November 2026, sejumlah dana institusi besar yang khusus
mengalokasikan investasi ke negara-negara Emerging Market dapat menarik dananya
dari Bursa Efek Indonesia (BEI), yang berpotensi menekan IHSG lebih
dalam dalam jangka menengah.
Fokus pasar hari ini juga tertuju pada pergerakan rupiah,
arus dana asing, serta rilis data inflasi Core PCE Amerika Serikat yang akan
menjadi acuan arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
Sebagai gambaran, bursa Wall Street semalam ditutup
bervariasi, dengan Dow Jones Industrial Average menguat 0,35% ke 51.848,9,
sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing melemah 0,098%
dan 0,43%.
Kondisi pasar global yang masih dibayangi ketidakpastian ini
turut menjadi salah satu pertimbangan bagi pelaku pasar domestik dalam
menentukan strategi hari ini.
Di tengah ketidakpastian arah indeks, sejumlah sekuritas
tetap memberikan rekomendasi saham untuk perdagangan hari ini.
Herditya dari MNC Sekuritas memilih saham Barito
Renewables Energy (BREN), Vale Indonesia (INCO), Merdeka Battery Materials
(MBMA), dan Bakrie and Brothers (BNBR), sementara BNI Sekuritas
merekomendasikan Mayora Indah (MYOR), Adaro Andalan Indonesia (AADI), Telkom
Indonesia (TLKM), Kalbe Farma (KLBF), BFI Finance (BFIN), dan Unilever
Indonesia (UNVR).
BRI Danareksa menambahkan pilihan saham SCMA, JSMR, dan
SMIL untuk strategi trading jangka pendek.
Disclaimer : Berita ini bersifat informasional dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca, dan disarankan untuk selalu melakukan riset mandiri atau berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan.




