Copyright 2025 © GM Academy
Jasa Pembuatan Website UMKM
Jasa Pelatihan Digital Marketing
Jasa Pembuatan Website Sekolah
Jasa Pelatihan Digital Marketing
Jasa Optimasi SEO untuk UMKM
Jasa Pelatihan Digital Marketing UMKM
Jasa Press Release Media Online
Pelatihan Digital Marketing di Sekolah
Program Magang Digital Marketing SMK dan Mahasiswa
Pelatihan Pemasaran Digital UMKM
Jasa Optimasi Digital Marketing
Jasa Optimasi Digital Marketing

IHSG Jeblok 1,09% ke 5.831 Siang Ini, Saham Bank Rontok

IHSG ditutup melemah 1,09% ke 5.831 pada sesi siang ini, Senin (29/6/2026). Simak penyebab pelemahan dan saham yang paling tertekan.
Jasa Pembuatan Website
Layar pergerakan saham IHSG dipantau para investor. Sumber: detikFinance
Layar pergerakan saham IHSG dipantau para investor. Sumber: detikFinance

UMKM Go Digital - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1% ke level 5.831 pada sesi kedua perdagangan, Senin (29/6/2026).

Pelemahan ini dipicu oleh tekanan jual yang mendominasi sejak awal sesi, terutama pada saham-saham sektor keuangan yang ambruk hingga 1,58%.

Kondisi ini membuat IHSG kembali berbalik arah setelah sempat dibuka menguat di level 5.932 pada pagi hari.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG tercatat turun 64,18 poin ke posisi 5.831,95 pada pukul 14.15 WIB.

Padahal pada awal perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.942 sebelum tekanan jual mulai terasa dan membalikkan arah pergerakan ke zona merah.

Sepanjang sesi siang, IHSG bahkan sempat menyentuh titik terlemahnya di level 5.828 sebelum jeda perdagangan.

Seluruh indeks sektoral ditutup di zona merah pada sesi ini, kecuali sektor kesehatan yang justru menguat tipis 0,19%.

Sektor keuangan menjadi pemberat utama dengan koreksi 1,58%, disusul sektor infrastruktur yang melemah 1,23%.

Aktivitas perdagangan terpantau cukup ramai dengan volume transaksi mencapai 7,51 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp4,02 triliun.

 

Saham-Saham yang Paling Tertekan

Sejumlah saham unggulan berkapitalisasi besar turut menyeret pelemahan IHSG pada sesi siang ini.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat koreksi terbesar di antara saham-saham bluechip, anjlok 2,43% ke posisi Rp6.025 per saham.

Disusul PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang melemah 2,99% ke Rp3.250, serta PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang turun 1,20% ke Rp3.280.

Saham bank besar lainnya juga tak luput dari tekanan jual. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 1% ke Rp3.950, sementara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 1,05% ke Rp2.840.

PT Astra International Tbk (ASII) ikut melemah 1,05% ke Rp4.710, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turun 1,61% ke Rp2.440.

Di tengah dominasi saham yang melemah, beberapa saham masih mampu mencatatkan penguatan.

Saham PT ENRG (Energi Mega Persada) melesat 4,81% ke Rp1.090, disusul PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang naik 1,11% ke Rp2.740 dan PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) yang menguat 1,23% ke Rp825.

 

Tren Pelemahan Berlanjut Sejak Akhir Juni

Pelemahan IHSG hari ini melanjutkan tren tekanan yang sudah berlangsung sejak akhir pekan lalu.

Sepanjang pekan terakhir Juni 2026, IHSG tercatat melemah hingga 4,55% dan ditutup di level 5.896.

Pelemahan beruntun ini banyak dipicu oleh tekanan dari saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya di sektor perbankan, energi, dan material dasar.

Saham BMRI menjadi salah satu penekan terbesar indeks dalam sepekan terakhir, dengan koreksi mencapai 7,42% yang menggerus IHSG hingga 25 poin.

Saham-saham seperti BRMS, AMMN, dan BREN juga mencatatkan pelemahan signifikan yang turut menambah beban pada pergerakan indeks secara keseluruhan.

Sebelumnya, pada Rabu (24/6/2026), IHSG bahkan sempat ambruk lebih dalam hingga ditutup melemah 3,56% ke level 5.883.

Pelemahan saat itu dibayangi keputusan MSCI yang menunda peninjauan terhadap pasar saham Indonesia, meski status Indonesia sebagai pasar negara berkembang (emerging market) tetap dipertahankan.

Pria berjalan melewati layar data saham IHSG. Sumber: Suara.com
Pria berjalan melewati layar data saham IHSG. Sumber: Suara.com

Posisi IHSG di Tengah Pergerakan Bursa Asia

Pergerakan IHSG hari ini berlangsung di tengah kinerja bursa Asia yang cenderung beragam (mixed).

Sebagai perbandingan, indeks Straits Times di Singapura juga ikut melemah tipis 0,15% ke level 5.184.

Variasi arah bursa regional ini menunjukkan bahwa pelemahan IHSG kali ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen dan tekanan jual domestik ketimbang dampak langsung dari pasar global.

Dari sisi nilai tukar, rupiah justru sempat menguat ke level Rp17.873 per dolar AS pada pembukaan hari ini, meski penguatan tersebut belum cukup kuat untuk menahan derasnya aksi jual di lantai bursa.

Kombinasi antara rupiah yang relatif stabil namun IHSG yang tetap tertekan mengindikasikan bahwa investor lebih banyak melakukan profit taking dan reposisi portofolio di saham-saham bluechip, terutama setelah tren pelemahan beruntun yang terjadi sejak akhir Juni.

Dari sisi teknikal, IHSG saat ini masih bergerak dalam tren pelemahan (downtrend) setelah gagal bertahan di atas level psikologis 6.000 dalam beberapa hari terakhir.

Level 5.828 yang menjadi titik terendah intraday hari ini berpotensi menjadi area support jangka pendek yang akan diuji kembali apabila tekanan jual berlanjut pada sesi-sesi berikutnya.

Sebaliknya, level 5.942 yang sempat disentuh pada pagi hari dapat menjadi resistance terdekat bila IHSG mampu berbalik menguat.

 

Dampak bagi Investor dan Pelaku Pasar

Pelemahan IHSG yang berkepanjangan ini berdampak langsung pada nilai portofolio investor, khususnya yang memiliki eksposur besar di saham-saham perbankan dan energi.

Bagi trader harian, volatilitas seperti ini membuka peluang jangka pendek, namun juga meningkatkan risiko kerugian bila tidak disertai manajemen risiko yang ketat.

Analis pasar umumnya menyarankan investor untuk tidak panik dan lebih fokus pada fundamental emiten ketimbang sentimen jangka pendek.

Momen koreksi seperti ini kerap dimanfaatkan investor jangka panjang untuk mengakumulasi saham-saham blue chip yang harganya tertekan akibat aksi jual masif, bukan karena perubahan kinerja fundamental perusahaan.

Pelaku pasar kini menanti perkembangan sentimen lanjutan, baik dari dalam negeri seperti kebijakan Bank Indonesia maupun dari bursa regional Asia, untuk melihat apakah IHSG mampu kembali menguat menuju level psikologis 6.000 pada sesi-sesi perdagangan berikutnya.

Pergerakan rupiah terhadap dolar AS juga akan menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi arah IHSG ke depan.

Jasa Pembuatan Website
Jasa Press Release Media Online
Jasa Pembuatan Website UMKM
Pelatihan Digital Marketing untuk UMKM
PixxelPro Digital ID