UMKM Go Digital - Google Trends adalah alat gratis dari Google yang menunjukkan seberapa sering suatu kata kunci dicari orang, dan UMKM bisa memakainya untuk riset produk sebelum menentukan barang apa yang akan dijual.
Caranya
adalah dengan memasukkan nama produk ke kolom pencarian Google Trends,
lalu membaca grafik minat dari waktu ke waktu, filter wilayah, dan kueri
terkait untuk memastikan permintaan pasar nyata.
Kesalahan
paling umum yang harus dihindari UMKM adalah menganggap semua tren naik sebagai
peluang jangka panjang, padahal banyak di antaranya hanya tren sesaat yang
cepat turun setelah ramai sebentar.
- Google Trends menampilkan
data minat pencarian dalam skala 0-100, bukan jumlah pencarian mentah.
- UMKM bisa membandingkan dua
ide produk sekaligus untuk melihat mana yang lebih diminati.
- Filter waktu membantu
mengenali pola musiman yang berulang setiap tahun.
- Filter wilayah menunjukkan
provinsi atau kota dengan minat pencarian tertinggi.
- Data SIDT-UMKM Kementerian
UMKM RI mencatat 30.209.069 unit usaha UMKM non-pertanian per 31 Desember
2025, sehingga persaingan pasar semakin ketat dan riset produk menjadi
krusial.
Mengapa
UMKM Wajib Menggunakan Google Trends?
Google
Trends penting bagi UMKM karena
menyediakan gambaran objektif tentang apa yang benar-benar dicari masyarakat,
bukan sekadar tebakan atau ikut-ikutan tren di media sosial.
Banyak
pelaku UMKM mengalami stok menumpuk karena salah menebak produk yang akan
laris, padahal data minat pencarian sebenarnya sudah tersedia gratis dan bisa
diakses siapa saja.
Berdasarkan
data Kementerian UMKM RI, jumlah UMKM non-pertanian di Indonesia mencapai
30.209.069 unit usaha per akhir 2025, dengan sektor perdagangan besar dan
eceran sebagai penyumbang terbanyak yakni 14,44 juta unit usaha.
Dengan
jumlah pesaing sebanyak itu, keputusan menjual produk berdasarkan data
pencarian jauh lebih aman dibandingkan hanya mengandalkan insting atau ikut
tren sesaat.
Google
Trends bekerja dengan mengumpulkan data dari mesin pencari Google secara
real time, lalu menormalkan angkanya ke skala 0 sampai 100 berdasarkan proporsi
pencarian pada periode dan wilayah tertentu.
Artinya,
angka 100 bukan berarti jutaan pencarian, melainkan titik popularitas tertinggi
kata kunci tersebut dibandingkan periode lain yang dianalisis.
Persiapan
Sebelum Memulai Riset Produk di Google Trends
Menentukan
Niche atau Kategori Bisnis
Sebelum
membuka Google Trends, UMKM perlu menentukan niche atau kategori bisnis
yang ingin dicek terlebih dahulu, misalnya kuliner, fesyen, atau kerajinan
tangan, agar hasil riset lebih fokus dan tidak melebar ke mana-mana.
Tanpa
niche yang jelas, hasil pencarian di Google Trends bisa terlalu umum dan
sulit dijadikan dasar keputusan bisnis.
Menyiapkan
Daftar Ide Produk yang Ingin Diuji
Langkah
persiapan berikutnya adalah menyiapkan daftar ide produk awal yang ingin diuji,
minimal tiga sampai lima nama produk atau varian, supaya proses perbandingan di
Google Trends lebih efisien.
Daftar
ini bisa berasal dari pengamatan pasar sekitar, permintaan pelanggan lama, atau
produk yang sedang ramai dibicarakan di media sosial namun belum divalidasi
datanya.
Menyiapkan
Kata Kunci
Pelaku
usaha juga sebaiknya menyiapkan kata kunci dalam beberapa variasi, misalnya
nama produk dalam bahasa Indonesia dan istilah populernya, karena masyarakat
kadang mencari dengan istilah yang berbeda-beda untuk produk yang sama.
Apa
Saja Langkah Efektif Riset Produk UMKM di Google Trends?
Ada empat
langkah efektif yang bisa diikuti UMKM secara berurutan, mulai dari mencari
topik yang sedang naik daun, menguji dua ide produk sekaligus, memanfaatkan
filter waktu, hingga menganalisis minat pencarian berdasarkan wilayah. Keempat
langkah ini saling melengkapi dan sebaiknya dilakukan bersamaan agar hasil
riset lebih akurat.
Mencari
Topik yang Sedang Naik Daun lewat Trending Searches
Fitur
Trending Searches atau Trending Now pada Google Trends menampilkan topik
yang sedang ramai dicari dalam beberapa jam atau hari terakhir, sehingga bisa
dipakai sebagai sumber ide bisnis yang sedang hangat di masyarakat.
UMKM bisa
memanfaatkan fitur ini untuk melihat apakah ada momentum tertentu, misalnya
event nasional atau musim tertentu, yang berpotensi mendongkrak penjualan
produk terkait.
Namun,
topik yang muncul di Trending Searches perlu dicek lebih lanjut kestabilannya,
karena tidak semua topik trending berarti layak dijadikan produk jualan jangka
panjang.
Menguji
dan Membandingkan Dua Ide Produk Sekaligus
Google
Trends memungkinkan UMKM memasukkan hingga lima kata kunci sekaligus untuk
dibandingkan dalam satu grafik, misalnya membandingkan minat pencarian
"kopi susu gula aren" dengan "matcha latte" pada periode
yang sama.
Grafik
perbandingan ini langsung menunjukkan produk mana yang memiliki minat pencarian
lebih tinggi serta bagaimana tren keduanya bergerak dari waktu ke waktu.
Studi
kasus sederhana seperti ini membantu UMKM mengambil keputusan berbasis data,
bukan sekadar asumsi, sebelum memutuskan produk mana yang akan diproduksi lebih
banyak.
Cara
membaca grafik perbandingan ini dibahas lebih detail pada cara membaca data
dan grafik Google Trends agar UMKM tidak salah strategi.
![]() |
| Langkah Riset Produk Pakai Google Trends |
Memanfaatkan
Filter Waktu untuk Melihat Pola Musiman
Filter
rentang waktu di Google Trends bisa diatur mulai dari satu jam terakhir
hingga data sejak tahun 2004, sehingga UMKM bisa melihat apakah suatu produk
memiliki pola musiman yang berulang setiap tahun.
Melihat
data 12 bulan terakhir cukup untuk kebutuhan jangka pendek, sementara data lima
tahun terakhir lebih cocok untuk memastikan pola musiman benar-benar konsisten
dan bukan kebetulan satu kali.
Produk
seperti perlengkapan Ramadan, parsel Lebaran, atau kado tahun baru biasanya
menunjukkan pola kenaikan yang berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.
Pembahasan
lengkap mengenai cara mencari ide produk musiman ada pada trik mendapatkan
ide jualan musiman yang laris menggunakan Google Trends.
Menganalisis
Minat Pencarian Berdasarkan Wilayah
Fitur
peta wilayah pada Google Trends menunjukkan provinsi atau kota mana yang
paling banyak mencari kata kunci produk tertentu, sehingga UMKM bisa mengetahui
area dengan potensi pasar tertinggi.
Informasi
ini sangat berguna untuk menentukan target iklan, memperkirakan kebutuhan stok
per wilayah, dan merancang strategi pengiriman yang lebih efisien.
Cara
lengkap memanfaatkan fitur wilayah ini untuk menentukan target pasar dibahas
pada cara menentukan lokasi target pasar yang tepat pakai fitur wilayah
Google Trends.
Apa
Kesalahan Fatal UMKM Saat Menggunakan Google Trends?
Kesalahan
paling sering terjadi adalah UMKM terjebak pada tren sesaat atau fads, yaitu
grafik yang naik drastis dalam waktu singkat lalu turun tajam setelahnya,
sehingga produk yang diproduksi dalam jumlah besar justru menumpuk saat tren
sudah reda.
Tren
semacam ini biasanya dipicu oleh viral di media sosial dan tidak mencerminkan
permintaan jangka panjang.
Kesalahan
kedua adalah hanya fokus pada tren tanpa mengecek kesiapan modal, suplai bahan
baku, dan kapasitas produksi, padahal permintaan tinggi tidak akan berguna jika
UMKM tidak sanggup memenuhinya tepat waktu.
Idealnya,
keputusan produksi tetap mempertimbangkan kondisi internal usaha, bukan hanya
data eksternal dari Google Trends semata.
Kesalahan
ketiga yang juga umum terjadi adalah salah menafsirkan angka pada grafik,
misalnya menganggap skor 50 berarti pencarian sudah menurun setengah, padahal
angka tersebut hanya menunjukkan posisi relatif dibanding titik tertinggi pada
periode yang dianalisis, bukan jumlah pencarian absolut.
Kesimpulan
Praktis
Google
Trends riset produk UMKM adalah cara gratis dan berbasis data untuk
menentukan produk apa yang layak dijual, mulai dari mengecek topik trending,
membandingkan ide produk, melihat pola musiman, hingga menganalisis wilayah
dengan minat tertinggi.
Pelaku
usaha yang konsisten memakai data ini sebelum memutuskan produksi umumnya lebih
siap menghadapi persaingan di antara jutaan UMKM lain di Indonesia.
Langkah
selanjutnya, cobalah praktikkan riset sederhana ini dengan memasukkan dua
sampai tiga ide produk ke Google Trends hari ini, lalu bandingkan
hasilnya sebelum memutuskan stok yang akan dibeli atau diproduksi.
Disclaimer:
Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan dapat berubah sewaktu-waktu
mengikuti pembaruan fitur Google Trends serta data terbaru dari lembaga
terkait.
Sumber
informasi berasal dari Kementerian UMKM RI, situs resmi Google Trends, dan
pengetahuan umum yang relevan.





