![]() |
| Tangan memegang dolar di atas tumpukan rupiah. Sumber: Antara News Bali |
UMKM Go
Digital - Nilai tukar rupiah kembali melemah tajam
pada perdagangan Senin (27/7/2026), dibuka di kisaran Rp17.969 hingga
Rp17.995 per dolar AS akibat kombinasi tekanan eksternal dari kebijakan
tarif impor baru Presiden AS Donald Trump dan konflik Timur Tengah,
ditambah gejolak domestik menyusul pengunduran diri mendadak Gubernur Bank
Indonesia (BI) Perry Warjiyo.
Analis pasar uang memperkirakan pelemahan ini masih akan
berlanjut sepanjang pekan ini dengan rentang pergerakan yang melebar, yakni
antara Rp17.880 hingga Rp18.250 per dolar AS, seiring pasar menunggu
kejelasan arah kebijakan moneter di bawah kepemimpinan baru BI serta hasil
pertemuan Federal Reserve pekan ini.
Sementara itu, harga beli dolar di sejumlah bank besar hari
ini bervariasi, dengan BNI mematok harga beli Rp17.957 dan harga jual
Rp17.987 pada special rates, sedangkan kurs referensi Bank Indonesia
mencatatkan harga jual sebesar Rp18.062,87 per dolar AS, naik dibandingkan
Rp18.004,58 pada Jumat lalu.
Pergerakan Kurs Rupiah Pagi Ini
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.05 WIB, rupiah
dibuka melemah 6 poin atau 0,03 persen dari penutupan Jumat (24/7/2026)
di level Rp17.963 per dolar AS.
Sumber lain seperti Trading Economics mencatat rupiah
bahkan sempat terdepresiasi lebih dalam ke Rp17.973, sementara data pasar spot
menunjukkan level Rp17.995, nyaris menyentuh ambang psikologis Rp18.000 per
dolar AS.
Penyebab Rupiah Melemah Hari Ini
Faktor Domestik: Gubernur BI Mundur Mendadak
Pemicu utama pelemahan hari ini datang dari dalam negeri.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengumumkan bahwa Presiden telah
menerima surat pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur BI.
Tugas kepemimpinan bank sentral untuk sementara dijalankan
oleh Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, sebagai pelaksana
tugas (Plt) Gubernur.
Pergantian pucuk pimpinan bank sentral secara mendadak ini
menambah ketidakpastian di pasar keuangan, meski Bank Indonesia menegaskan
fungsi menjaga stabilitas rupiah tetap berjalan normal.
Faktor Eksternal: Tarif Trump dan Konflik Timur Tengah
Dari sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah juga dipicu
oleh kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat sebesar 10 hingga 12,5 persen
terhadap sekitar 60 negara mitra dagang, yang meningkatkan ketidakpastian
perdagangan global.
Analis PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi,
menjelaskan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan
harga minyak dunia, sementara data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari
perkiraan menambah kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan mempertahankan sikap
kebijakan suku bunga yang ketat.
Sebagai negara net importir minyak, Indonesia menghadapi
tekanan tambahan dari membengkaknya kebutuhan dolar AS untuk menutup defisit
impor energi yang melampaui 1,5 juta barel per hari, kondisi yang menurut
Ibrahim berpotensi mengganggu kinerja neraca transaksi berjalan pada kuartal
III 2026.
Tekanan Dolar Global Justru Mulai Mereda
Meski demikian, tekanan terhadap dolar AS secara global
sebenarnya mulai mereda pada awal pekan ini.
Indeks dolar AS (DXY) tercatat turun 0,25 persen ke level
101,23, menyusul keputusan Amerika Serikat menghentikan serangan terhadap Iran
selama akhir pekan sehingga harga minyak sempat mereda dan kepercayaan investor
global membaik.
Kondisi ini membuat sejumlah analis menilai pelemahan rupiah
kali ini lebih banyak dipicu sentimen domestik ketimbang tekanan dolar global
yang justru sedang melunak.
![]() |
| Uang rupiah dan dolar berlatar grafik turun. Sumber: BeritaSatu.com |
Langkah Bank Indonesia Jaga Stabilitas
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia pada
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026 memutuskan mempertahankan suku bunga acuan
(BI Rate) di level 5,75 persen.
Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar
rupiah, mengendalikan inflasi, sekaligus mendorong penyaluran kredit dan
investasi portofolio asing.
Bank Indonesia menyatakan tetap mengoptimalkan
instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di pasar untuk menjaga
volatilitas nilai tukar agar tetap terukur di tengah masa transisi
kepemimpinan.
Kurs Jual Beli Dolar di Bank Hari Ini
Untuk transaksi harian, kurs jual beli dolar AS di bank-bank
besar turut bergerak menyesuaikan pelemahan rupiah pagi ini.
BNI mematok harga beli Rp17.957 dan harga jual Rp17.987
untuk special rates, sedangkan pada TT counter dan bank notes, harga
beli ditetapkan Rp17.750 dengan harga jual Rp18.050 per dolar AS.
Nasabah yang membutuhkan kurs untuk transaksi bernilai besar
disarankan menghubungi cabang bank terkait, karena kurs dapat berubah
sewaktu-waktu mengikuti pergerakan pasar.
Proyeksi Rupiah Sepekan ke Depan
Ibrahim memproyeksikan rupiah akan terus tertekan sepanjang
pekan ini dengan rentang pergerakan yang melebar antara Rp17.880 hingga
Rp18.250 per dolar AS.
Seiring pasar mencermati proses transisi kepemimpinan Bank
Indonesia serta hasil pertemuan kebijakan Federal Reserve yang dijadwalkan
pekan ini.
Selain itu, pelaku pasar juga akan memperhatikan
perkembangan lanjutan konflik Timur Tengah dan realisasi kebijakan tarif dagang
AS, dua faktor yang berpotensi kembali menggerakkan harga minyak dan arus modal
ke aset safe haven seperti dolar AS.
Dampak bagi Pelaku Usaha dan UMKM
Secara tahunan, posisi rupiah hari ini juga masih
mencerminkan pelemahan yang cukup dalam.
Berdasarkan catatan sejumlah analis pasar, nilai tukar
rupiah saat ini masih terdepresiasi sekitar 10 persen dibandingkan posisi
setahun lalu, meski cadangan devisa Indonesia tercatat relatif memadai di
kisaran 145,6 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026.
Kondisi cadangan devisa yang masih terjaga ini menjadi salah
satu bantalan yang diharapkan dapat mencegah pelemahan rupiah berlanjut terlalu
dalam, sembari pasar menunggu kepastian sosok yang akan ditunjuk sebagai
Gubernur BI definitif menggantikan Perry Warjiyo.
Bagi pelaku usaha, importir, dan UMKM yang bergantung pada
bahan baku impor, pergerakan kurs dalam beberapa hari ke depan layak dicermati
secara berkala.
Mengingat rentang proyeksi yang cukup lebar antara Rp17.880 hingga Rp18.250 per dolar AS berpotensi memengaruhi perhitungan biaya produksi dan harga jual produk dalam jangka pendek.





