![]() |
| Tangan memegang uang rupiah di atas dolar. Sumber: Media Indonesia |
UMKM Go
Digital - Nilai tukar rupiah kembali melemah tajam
terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Rabu (24/6/2026),
menyentuh level Rp17.946 per dolar AS.
Pelemahan ini menandai hari keenam beruntun rupiah berada
dalam tren depresiasi, setelah sebelumnya ditutup di Rp17.859 per dolar AS
pada perdagangan Selasa (23/6/2026) berdasarkan data pasar spot.
Kondisi ini terjadi meski Bank Indonesia baru saja
menaikkan suku bunga acuan, menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda masih
jauh dari mereda.
Pelemahan rupiah kali ini terjadi di tengah kombinasi
tekanan eksternal dan domestik yang saling menguat.
Dari sisi global, indeks dolar AS bertahan mendekati puncak
13 bulan terakhir, didorong ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve masih
berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga yang hawkish hingga akhir tahun.
Yield obligasi AS yang tinggi serta harga minyak dunia yang
masih mahal turut memperkuat permintaan dasar terhadap dolar AS di pasar
global, termasuk di Indonesia.
Senior Currency Analyst MUFG, Lloyd Chan,
menyebut likuiditas dolar AS di dalam negeri tetap ketat sebagai salah satu
indikator bahwa permintaan terhadap mata uang tersebut belum mengalami
penurunan signifikan.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) sebenarnya sudah
mengambil langkah antisipatif dengan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin
menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni 2026.
Langkah ini merupakan bagian dari rangkaian pengetatan
kebijakan moneter yang telah mencapai total kenaikan 100 basis poin sejak Mei
2026.
Namun menurut Lloyd, kebijakan tersebut hanya mampu
memperlambat laju depresiasi dalam jangka pendek, bukan membalikkan arah tren
secara penuh.
"Meningkatnya ketidakpastian global kemungkinan akan
membatasi pemulihan rupiah yang berkelanjutan," ujarnya dalam riset yang
dikutip Selasa (23/6/2026).
Tekanan terhadap rupiah juga tidak lepas dari faktor sektor
riil domestik. Surplus perdagangan Indonesia menyusut tajam menjadi hanya US$89
juta pada April 2026, jauh merosot dari US$3,3 miliar pada Maret 2026.
Penurunan surplus ini mengindikasikan melemahnya kinerja
ekspor atau meningkatnya kebutuhan impor, yang pada akhirnya menambah
permintaan dolar AS di pasar domestik.
![]() |
| Tangan memegang dolar di atas uang rupiah. Sumber: Market Bisnis |
Selain itu, kebutuhan valuta asing untuk pembayaran dividen
dan kewajiban utang jatuh tempo, ditambah kecenderungan sebagian masyarakat
mengalihkan simpanan ke instrumen berbasis valas, turut memperberat tekanan
terhadap mata uang nasional.
Rupiah tidak sendirian dalam tren pelemahan ini.
Sejumlah mata uang Asia lain juga tercatat melemah pada periode yang sama,
dengan baht Thailand turun 0,77%, peso Filipina melemah 0,37%, dolar
Singapura turun 0,23%, dan yuan China melemah 0,16%.
Di sisi lain, beberapa mata uang di kawasan justru mengalami
penguatan, seperti ringgit Malaysia yang meningkat sebesar 0,19% dan yen
Jepang yang menguat sedikit sebesar 0,03%, menunjukkan bahwa penurunan
nilai rupiah juga dipengaruhi oleh sentimen regional meskipun faktor domestik
tetap dominan.
Bagi pelaku bisnis impor dan investor, pelemahan rupiah ke
level Rp17.946 ini membawa konsekuensi langsung.
Biaya bahan baku impor seperti kedelai, jagung, pupuk, dan
berbagai komponen industri berpotensi naik, yang pada gilirannya dapat
mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Pelaku industri pariwisata juga perlu mencermati dampaknya
terhadap minat wisatawan domestik yang berwisata ke luar negeri, sekaligus
potensi peluang bagi sektor pariwisata domestik akibat daya tarik harga yang
lebih kompetitif bagi turis asing.
Untuk proyeksi jangka pendek, Lloyd Chan
memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.500 hingga Rp17.800 per
dolar AS, dengan asumsi tidak ada eskalasi geopolitik baru.
Namun ia mengingatkan, risiko tetap mengarah ke atas. Seiring
dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, ada risiko bahwa konflik akan
berlanjut hingga kuartal III, dengan nilai rupiah bergerak sedikit lebih tinggi
mendekati Rp18.200," ujarnya.
Ia juga memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga
tambahan sebesar 25 basis poin pada kuartal III/2026, dengan kemungkinan
tercepat terjadi pada Juli mendatang.
Sebagai catatan tambahan, kurs referensi JISDOR Bank
Indonesia yang disusun dari transaksi spot USD/IDR antar bank
melalui sistem SISMONTAVAR tercatat di level Rp17.868 pada penutupan
Selasa, sedikit berbeda dari kurs pasar spot.
Kurs jual-beli di bank-bank besar seperti BCA, Mandiri, BRI, dan BNI juga bervariasi tergantung jenis transaksi, sehingga nasabah disarankan mengecek kurs terbaru langsung di masing-masing bank sebelum melakukan transaksi valuta asing.




