![]() |
| Petugas SPBU di samping pompa bensin. Sumber: BBC |
UMKM Go
Digital - Harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar
dipastikan tidak akan naik pada Juli 2026, meski harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax
sempat melonjak lebih dari 30 persen pada Juni lalu.
Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter dan
Biosolar Rp6.800 per liter di seluruh Indonesia, sesuai komitmen
pemerintah menjaga daya beli masyarakat hingga akhir tahun.
Bahkan, alih-alih naik, Pertamina justru berencana
menurunkan harga BBM nonsubsidi secara bertahap mulai Juli 2026 menyusul tren
pelemahan harga minyak dunia.
Kepastian ini datang langsung dari Kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Wakil Menteri ESDM yaitu Yuliot menegaskan tidak ada
kenaikan harga BBM subsidi hingga akhir 2026, meski nilai tukar rupiah saat itu
sempat menembus Rp17.877 per dolar AS.
Pemerintah juga memastikan stok Pertalite dan solar CN48
berada di atas batas minimal cadangan operasional nasional, yakni di atas 23
hari, sehingga tidak ada alasan teknis untuk menaikkan harga BBM bersubsidi
dalam waktu dekat.
Kepastian serupa juga disampaikan langsung oleh Direktur
Utama PT Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, pertengahan Juni lalu.
Ia menegaskan harga Pertalite dan Biosolar tidak mengalami
perubahan, di tengah penyesuaian harga yang justru terjadi pada BBM nonsubsidi
jenis Pertamax dan Pertamax Green 95.
Kenapa Pertamax Naik Tapi Pertalite Tidak
Sejak 10 Juni 2026, Pertamina menaikkan harga Pertamax (RON
92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, dan Pertamax Green 95 dari
Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Kenaikan ini setara lebih dari 30 persen, dipicu lonjakan
harga minyak dunia akibat konflik Israel-Iran yang pecah sejak akhir Februari
2026. Sementara itu, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex tidak ikut
berubah pada periode tersebut.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV
Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengikuti
formula resmi pemerintah lewat Kepmen ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022.
Dua variabel utamanya adalah harga acuan Mean of Platts
Singapore (MOPS) dan kurs dolar AS terhadap rupiah, yang dievaluasi setiap
bulan.
Berbeda dengan mekanisme itu, harga BBM subsidi ditetapkan
tetap oleh pemerintah sebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat
berpendapatan rendah, sehingga tidak otomatis mengikuti fluktuasi pasar
internasional.
Hingga akhir Juni 2026, harga BBM nonsubsidi belum mengalami
penyesuaian baru sejak 10 Juni.
Di Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta,
Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT, harga Pertamax masih Rp16.250 per liter,
Pertamax Turbo Rp20.750 per liter, Pertamax Green 95 Rp17.000 per liter,
Dexlite Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter.
Harga di wilayah Sumatera dan Indonesia timur umumnya
sedikit lebih tinggi karena faktor biaya distribusi.
![]() |
| Petugas mengisi bensin di SPBU. Sumber: Transportasi Media Indonesia |
Sinyal Penurunan Harga Mulai Juli
Justru berlawanan dengan dugaan banyak orang, tren harga BBM
nonsubsidi pada Juli 2026 mengarah ke penurunan, bukan kenaikan.
Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan,
menyatakan pada akhir Juni bahwa Dewan Komisaris telah memberikan masukan
kepada jajaran Direksi untuk memproyeksikan penurunan harga secara bertahap
mulai bulan depan, seiring tren pelemahan harga minyak mentah dunia.
Faktor pendorongnya adalah meredanya tensi geopolitik di
Timur Tengah setelah dibukanya kembali Selat Hormuz menyusul kesepakatan damai
antara Amerika Serikat dan Iran.
Pada akhir Juni 2026, harga minyak Brent berada di kisaran
73 dolar AS per barel dan WTI di sekitar 70 dolar AS per barel, jauh melandai
dibandingkan saat konflik memuncak.
Praktisi migas Hadi Ismoyo menilai penurunan harga
BBM nonsubsidi sangat mungkin terjadi apabila tren harga minyak dunia bertahan
di level tersebut, karena harga BBM nonsubsidi memang berbanding lurus dengan
harga minyak mentah internasional.
Apa Saja Jenis BBM Nonsubsidi Pertamina
BBM nonsubsidi adalah jenis bahan bakar yang harganya
mengikuti mekanisme pasar dan tidak ditanggung pemerintah.
Saat ini Pertamina memasarkan lima jenis utama: Pertamax
(RON 92), Pertamax Green 95 (RON 95), Pertamax Turbo (RON 98), Dexlite, dan
Pertamina Dex untuk kategori diesel.
Kelimanya kerap menjadi pilihan pengguna kendaraan pribadi
kelas menengah ke atas serta kendaraan dengan spesifikasi mesin yang
mensyaratkan oktan atau cetane number lebih tinggi.
Sebagai perbandingan, BBM subsidi hanya terdiri dari dua
jenis, yakni Pertalite (RON 90) untuk kendaraan roda dua dan roda empat umum, serta
Biosolar (CN 48) yang banyak dipakai kendaraan niaga dan truk logistik.
Pemerintah juga tengah menyiapkan peluncuran Biodiesel B50
mulai Juli 2026 sebagai bagian dari upaya mengurangi impor solar dan menekan
emisi karbon, meski jenis ini belum masuk kategori subsidi.
Bagi masyarakat yang ingin memantau pergerakan harga BBM terkini, Pertamina menyediakan informasi resmi melalui aplikasi MyPertamina serta kanal resmi Pertamina Patra Niaga, yang memperbarui daftar harga setiap awal bulan atau saat ada penyesuaian khusus.




