Copyright 2025 © GM Academy
Jasa Pembuatan Website UMKM
Jasa Pelatihan Digital Marketing
Jasa Pembuatan Website Sekolah
Jasa Pelatihan Digital Marketing
Jasa Optimasi SEO untuk UMKM
Jasa Pelatihan Digital Marketing UMKM
Jasa Press Release Media Online
Pelatihan Digital Marketing di Sekolah
Program Magang Digital Marketing SMK dan Mahasiswa
Pelatihan Pemasaran Digital UMKM
Jasa Optimasi Digital Marketing
Jasa Optimasi Digital Marketing

Rupiah Ambruk Lagi ke Rp17.946, Tembus Level Terlemah

Rupiah jatuh ke Rp17.946 per dolar AS Rabu pagi, melanjutkan pelemahan 6 hari beruntun di tengah tekanan global dan domestik.
Jasa Pembuatan Website
Tangan memegang uang rupiah di atas dolar. Sumber: Media Indonesia
Tangan memegang uang rupiah di atas dolar. Sumber: Media Indonesia

UMKM Go Digital - Nilai tukar rupiah kembali melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Rabu (24/6/2026), menyentuh level Rp17.946 per dolar AS.

Pelemahan ini menandai hari keenam beruntun rupiah berada dalam tren depresiasi, setelah sebelumnya ditutup di Rp17.859 per dolar AS pada perdagangan Selasa (23/6/2026) berdasarkan data pasar spot.

Kondisi ini terjadi meski Bank Indonesia baru saja menaikkan suku bunga acuan, menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda masih jauh dari mereda.

Pelemahan rupiah kali ini terjadi di tengah kombinasi tekanan eksternal dan domestik yang saling menguat.

Dari sisi global, indeks dolar AS bertahan mendekati puncak 13 bulan terakhir, didorong ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve masih berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga yang hawkish hingga akhir tahun.

Yield obligasi AS yang tinggi serta harga minyak dunia yang masih mahal turut memperkuat permintaan dasar terhadap dolar AS di pasar global, termasuk di Indonesia.

Senior Currency Analyst MUFG, Lloyd Chan, menyebut likuiditas dolar AS di dalam negeri tetap ketat sebagai salah satu indikator bahwa permintaan terhadap mata uang tersebut belum mengalami penurunan signifikan.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) sebenarnya sudah mengambil langkah antisipatif dengan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni 2026.

Langkah ini merupakan bagian dari rangkaian pengetatan kebijakan moneter yang telah mencapai total kenaikan 100 basis poin sejak Mei 2026.

Namun menurut Lloyd, kebijakan tersebut hanya mampu memperlambat laju depresiasi dalam jangka pendek, bukan membalikkan arah tren secara penuh.

"Meningkatnya ketidakpastian global kemungkinan akan membatasi pemulihan rupiah yang berkelanjutan," ujarnya dalam riset yang dikutip Selasa (23/6/2026).

Tekanan terhadap rupiah juga tidak lepas dari faktor sektor riil domestik. Surplus perdagangan Indonesia menyusut tajam menjadi hanya US$89 juta pada April 2026, jauh merosot dari US$3,3 miliar pada Maret 2026.

Penurunan surplus ini mengindikasikan melemahnya kinerja ekspor atau meningkatnya kebutuhan impor, yang pada akhirnya menambah permintaan dolar AS di pasar domestik.

Tangan memegang dolar di atas uang rupiah. Sumber: Market Bisnis
Tangan memegang dolar di atas uang rupiah. Sumber: Market Bisnis

Selain itu, kebutuhan valuta asing untuk pembayaran dividen dan kewajiban utang jatuh tempo, ditambah kecenderungan sebagian masyarakat mengalihkan simpanan ke instrumen berbasis valas, turut memperberat tekanan terhadap mata uang nasional.

Rupiah tidak sendirian dalam tren pelemahan ini. Sejumlah mata uang Asia lain juga tercatat melemah pada periode yang sama, dengan baht Thailand turun 0,77%, peso Filipina melemah 0,37%, dolar Singapura turun 0,23%, dan yuan China melemah 0,16%.

Di sisi lain, beberapa mata uang di kawasan justru mengalami penguatan, seperti ringgit Malaysia yang meningkat sebesar 0,19% dan yen Jepang yang menguat sedikit sebesar 0,03%, menunjukkan bahwa penurunan nilai rupiah juga dipengaruhi oleh sentimen regional meskipun faktor domestik tetap dominan.

Bagi pelaku bisnis impor dan investor, pelemahan rupiah ke level Rp17.946 ini membawa konsekuensi langsung.

Biaya bahan baku impor seperti kedelai, jagung, pupuk, dan berbagai komponen industri berpotensi naik, yang pada gilirannya dapat mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.

Pelaku industri pariwisata juga perlu mencermati dampaknya terhadap minat wisatawan domestik yang berwisata ke luar negeri, sekaligus potensi peluang bagi sektor pariwisata domestik akibat daya tarik harga yang lebih kompetitif bagi turis asing.

Untuk proyeksi jangka pendek, Lloyd Chan memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.500 hingga Rp17.800 per dolar AS, dengan asumsi tidak ada eskalasi geopolitik baru.

Namun ia mengingatkan, risiko tetap mengarah ke atas. Seiring dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, ada risiko bahwa konflik akan berlanjut hingga kuartal III, dengan nilai rupiah bergerak sedikit lebih tinggi mendekati Rp18.200," ujarnya.

Ia juga memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga tambahan sebesar 25 basis poin pada kuartal III/2026, dengan kemungkinan tercepat terjadi pada Juli mendatang.

Sebagai catatan tambahan, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia yang disusun dari transaksi spot USD/IDR antar bank melalui sistem SISMONTAVAR tercatat di level Rp17.868 pada penutupan Selasa, sedikit berbeda dari kurs pasar spot.

Kurs jual-beli di bank-bank besar seperti BCA, Mandiri, BRI, dan BNI juga bervariasi tergantung jenis transaksi, sehingga nasabah disarankan mengecek kurs terbaru langsung di masing-masing bank sebelum melakukan transaksi valuta asing.

Jasa Pembuatan Website
Jasa Press Release Media Online
Jasa Pembuatan Website UMKM
Pelatihan Digital Marketing untuk UMKM
PixxelPro Digital ID