![]() |
| Siaran data pasar keuangan RI. Sumber: CNBC Indonesia |
UMKM Go
Digital - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah
1,85 persen ke level 6.599 pada penutupan perdagangan Senin, 18 Mei 2026.
Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan rupiah yang
mencetak rekor penutupan terlemah sepanjang sejarah, yakni melemah 1,09 persen
ke level Rp17.650 per dolar AS menembus level psikologis baru di atas
Rp17.600/USD.
Dua tekanan ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif
global, ketegangan geopolitik Amerika Serikat–Iran, serta keluarnya dana asing
dari pasar keuangan domestik.
Rupiah Jadi Pemberat Utama IHSG
Pelemahan dipicu sentimen negatif global, ketegangan Amerika
Serikat–Iran, serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.
Tekanan rupiah memicu spekulasi kenaikan suku bunga Bank
Indonesia yang berdampak pada penurunan minat investor saham domestik.
Depresiasi rupiah menjadi yang paling dalam dibandingkan
mayoritas mata uang Asia lainnya yang turut melemah, seperti Baht Thailand, Yen
Jepang, Hong Kong Dolar, hingga Won Korea Selatan.
Dampaknya langsung terasa di bursa. Tekanan jual terjadi
hampir di seluruh sektor. Sektor transportasi menjadi yang paling terpukul
setelah anjlok 6,2 persen, disusul sektor basic industry yang turun 5,2 persen
serta sektor industrial yang melemah 3,2 persen.
Saham-saham berkapitalisasi besar seperti DSSA, TPIA, BBRI,
dan AMMN turut menjadi penekan utama indeks.
Prabowo Panggil Menkeu dan Gubernur BI ke Istana
Situasi genting ini mendorong respons cepat di tingkat
tertinggi pemerintahan.
Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah pejabat tinggi,
termasuk Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur Bank Indonesia
Perry Warjiyo, ke Istana Negara pada Senin (18/5/2026).
Meski demikian, pemerintah meminta masyarakat tidak panik.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi Indonesia saat
ini jauh dari ancaman resesi karena laju pertumbuhan ekonomi domestik masih
bergerak cepat.
Ia bahkan melihat koreksi harga saham ini sebagai momentum
yang menguntungkan bagi para pemodal untuk membeli aset di harga rendah.
BI Tegaskan Stabilitas, Bukan Level Kurs
Di sisi moneter, Bank Indonesia memilih narasi yang berbeda
dari kekhawatiran pasar. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa yang dijaga
adalah stabilitas nilai tukar, bukan level-nya.
Ia menyebut volatilitas rupiah secara year-to-date masih
berada di sekitar 5,4 persen dan masih dapat dikategorikan stabil di tengah
tekanan global.
Perry memperkirakan rupiah dapat kembali berada di
kisaran Rp16.200–Rp16.800 per dolar AS pada akhir 2026.
Untuk menarik kembali aliran dana asing, BI mengandalkan
instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan kenaikan imbal hasil
agar instrumen rupiah lebih menarik bagi investor asing.
![]() |
| Ilustrasi pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Sumber: Universitas Airlangga |
Kenaikan BI Rate di Depan Mata
Pasar kini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank
Indonesia yang berlangsung Selasa dan Rabu pada 19 dan 20 Mei 2026.
IHSG dan rupiah mengalami tekanan signifikan menjelang RDG
BI, dengan kemungkinan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin untuk menjaga
stabilitas nilai tukar.
Tekanan terhadap rupiah yang menembus level Rp17.600 per
dolar AS turut dibarengi kenaikan yield obligasi pemerintah kondisi yang
mengindikasikan adanya aliran dana asing keluar dari pasar keuangan domestik
seiring meningkatnya aversi risiko global.
Kapitalisasi Pasar Menguap Rp5.278 Triliun
Secara kumulatif, dampak pelemahan ini sudah sangat besar.
Kapitalisasi pasar saham Indonesia menyusut ke level Rp11.312 triliun, atau
menguap sebesar Rp5.278 triliun sejak rekor tertinggi pada Januari 2026.
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengingatkan
investor untuk melakukan diversifikasi guna mengurangi risiko kerugian pada
satu jenis aset saja, dan merekomendasikan strategi investasi berkala atau
rupiah cost averaging daripada spekulasi menebak titik terendah pasar.
Sementara itu, pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia
Budi Frensidy menilai aset seperti emas dan dolar AS kini kembali diminati
sebagai pelindung nilai (safe haven).
Bagi investor ritel dan pelaku bisnis, kondisi ini menjadi
pengingat bahwa pasar keuangan Indonesia masih sangat rentan terhadap perubahan
sentimen global dan kehati-hatian dalam pengelolaan portofolio menjadi kunci
melewati periode bergejolak ini.
Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan
rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca.




