![]() |
| Tumpukan bongkahan batu bara. Sumber: Kompas Money |
UMKM Go Digital - Harga batu bara global
kembali tertekan setelah sempat mencatatkan penguatan selama tiga hari
beruntun. Berdasarkan data Refinitiv, kontrak batu bara Newcastle untuk
pengiriman Juni 2026 ditutup melemah ke kisaran US$ 108-110 per ton, dipicu
oleh lonjakan impor batu bara China pada April 2026 yang tiba-tiba berbalik
turun 14% secara tahunan menjadi 33,1 juta metrik ton.
Kombinasi melemahnya permintaan dari dua pembeli terbesar
dunia China dan India serta tekanan pasokan dari Indonesia menjadi faktor utama
di balik koreksi harga ini.
Administrasi Kepabeanan China mencatat total impor batu bara
sepanjang Januari sampai April 2026 mencapai 149,4 juta metrik ton, menyusut
2,1% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Penurunan terjadi karena harga batu bara impor jauh lebih
mahal dibanding batu bara domestik China, sehingga utilitas listrik lebih
memilih pasokan dalam negeri.
Aktivitas perdagangan pasca-libur Hari Buruh China juga
berjalan lesu karena stok di pelabuhan mulai meningkat namun tidak diimbangi
permintaan yang kuat dari pembeli.
Mengapa harga batu bara bisa naik dan kemudian turun?
Pergerakan harga batu bara sangat dipengaruhi oleh
keseimbangan antara pasokan dan permintaan global.
Ketika China atau India dua importir batu bara terbesar
dunia mengurangi pembelian, harga langsung tertekan.
Sebaliknya, saat stok menipis dan musim dingin atau musim
panas mendorong konsumsi listrik melonjak, harga bisa melejit dalam hitungan
hari.
Pada awal 2026, reli harga yang sempat mendorong kontrak
Newcastle mendekati US$ 130-an per ton dipicu oleh ketatnya pasokan dari
Indonesia dan tingginya permintaan utilitas China untuk pengiriman Mei sampai Juni.
Dampak terhadap industri pertambangan Indonesia
Indonesia sebagai eksportir batu bara termal terbesar dunia
ikut terdampak langsung. Ekspor batu bara Indonesia ke China pada awal
2026 dilaporkan mengalami tekanan karena harga penawaran dari penambang
domestik Indonesia sudah dinilai terlalu tinggi oleh trader China, sehingga
arbitrase tidak lagi menguntungkan.
Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) sebelumnya juga mencatat bahwa sejak awal 2025, ekspor ke China dan India menghadapi persaingan ketat dari Australia, Mongolia, dan Rusia yang menawarkan harga lebih kompetitif.
Di sisi kebijakan, pemerintah Indonesia pernah menerapkan
mandat harga acuan yang mewajibkan penambang menggunakan batas minimum harga
pemerintah untuk setiap transaksi mineral dan batu bara.
Setelah mandat itu dicabut pada September 2025, pasar
beralih ke Indonesian Coal Index (ICI) yang dianggap lebih transparan.
Langkah ini sempat memicu koreksi tajam, dengan harga
Newcastle menyentuh posisi terendah tujuh pekan saat itu.
![]() |
| Alat berat memindahkan batu bara. Sumber: Bandung BeritaKini |
Proyeksi dan outlook ke depan
Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China (CCTD)
memproyeksikan impor batu bara China sepanjang 2026 akan turun 5,1% menjadi
sekitar 465 juta ton.
Perlambatan ini diperkirakan mendorong China semakin
mengandalkan produksi domestik yang sudah mencapai rekor 4,8 miliar ton pada
tahun lalu.
Sementara itu, Energy Information Administration (EIA)
memproyeksikan permintaan batu bara global mulai melandai menuju 2030 seiring
transisi energi yang makin nyata, dengan produksi global diperkirakan turun
dari lebih dari 9 miliar ton menjadi sekitar 8,64 miliar ton.
Bagi pelaku industri di daerah penghasil batu bara seperti
Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan fluktuasi harga ini
berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja dan pendapatan asli daerah.
Kementerian ESDM mencatat PNBP sektor mineral dan batu bara
hingga Juni 2025 baru mencapai Rp 68,3 triliun atau 54% dari target Rp 126,48
triliun, sebagian besar akibat harga batu bara yang tertekan sepanjang paruh
pertama tahun itu.
Yang perlu dipantau
Para pelaku industri dan investor disarankan memantau
beberapa indikator kunci: volume impor bulanan China, tingkat stok batu
bara di pelabuhan utara China, perkembangan cuaca ekstrem di India yang
mendorong permintaan listrik, serta kebijakan kuota produksi dan ekspor
Indonesia.
Kombinasi faktor-faktor ini akan menentukan arah harga
batu bara dalam jangka pendek, terutama menjelang pergantian musim di
belahan bumi utara yang secara historis mendorong lonjakan permintaan energi.




