Copyright 2025 © GM Academy
Jasa Pembuatan Website UMKM
Jasa Pelatihan Digital Marketing
Jasa Pembuatan Website Sekolah
Jasa Pelatihan Digital Marketing
Jasa Optimasi SEO untuk UMKM
Jasa Pelatihan Digital Marketing UMKM
Jasa Press Release Media Online
Pelatihan Digital Marketing di Sekolah
Program Magang Digital Marketing SMK dan Mahasiswa
Pelatihan Pemasaran Digital UMKM
Jasa Optimasi Digital Marketing
Jasa Optimasi Digital Marketing

Harga Batu Bara Anjlok Usai 3 Hari Naik, Ini Penyebabnya

Harga batu bara Newcastle kembali turun setelah tiga hari naik. Ini penyebab, data harga terkini, dan dampaknya bagi industri pertambangan Indonesia.
Jasa Pembuatan Website
Tumpukan bongkahan batu bara. Sumber: Kompas Money
Tumpukan bongkahan batu bara. Sumber: Kompas Money

UMKM Go Digital - Harga batu bara global kembali tertekan setelah sempat mencatatkan penguatan selama tiga hari beruntun. Berdasarkan data Refinitiv, kontrak batu bara Newcastle untuk pengiriman Juni 2026 ditutup melemah ke kisaran US$ 108-110 per ton, dipicu oleh lonjakan impor batu bara China pada April 2026 yang tiba-tiba berbalik turun 14% secara tahunan menjadi 33,1 juta metrik ton.

Kombinasi melemahnya permintaan dari dua pembeli terbesar dunia China dan India serta tekanan pasokan dari Indonesia menjadi faktor utama di balik koreksi harga ini.

Administrasi Kepabeanan China mencatat total impor batu bara sepanjang Januari sampai April 2026 mencapai 149,4 juta metrik ton, menyusut 2,1% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Penurunan terjadi karena harga batu bara impor jauh lebih mahal dibanding batu bara domestik China, sehingga utilitas listrik lebih memilih pasokan dalam negeri.

Aktivitas perdagangan pasca-libur Hari Buruh China juga berjalan lesu karena stok di pelabuhan mulai meningkat namun tidak diimbangi permintaan yang kuat dari pembeli.

 

Mengapa harga batu bara bisa naik dan kemudian turun?

Pergerakan harga batu bara sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara pasokan dan permintaan global.

Ketika China atau India dua importir batu bara terbesar dunia mengurangi pembelian, harga langsung tertekan.

Sebaliknya, saat stok menipis dan musim dingin atau musim panas mendorong konsumsi listrik melonjak, harga bisa melejit dalam hitungan hari.

Pada awal 2026, reli harga yang sempat mendorong kontrak Newcastle mendekati US$ 130-an per ton dipicu oleh ketatnya pasokan dari Indonesia dan tingginya permintaan utilitas China untuk pengiriman Mei sampai Juni.

 

Dampak terhadap industri pertambangan Indonesia

Indonesia sebagai eksportir batu bara termal terbesar dunia ikut terdampak langsung. Ekspor batu bara Indonesia ke China pada awal 2026 dilaporkan mengalami tekanan karena harga penawaran dari penambang domestik Indonesia sudah dinilai terlalu tinggi oleh trader China, sehingga arbitrase tidak lagi menguntungkan.

Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) sebelumnya juga mencatat bahwa sejak awal 2025, ekspor ke China dan India menghadapi persaingan ketat dari Australia, Mongolia, dan Rusia yang menawarkan harga lebih kompetitif.

Di sisi kebijakan, pemerintah Indonesia pernah menerapkan mandat harga acuan yang mewajibkan penambang menggunakan batas minimum harga pemerintah untuk setiap transaksi mineral dan batu bara.

Setelah mandat itu dicabut pada September 2025, pasar beralih ke Indonesian Coal Index (ICI) yang dianggap lebih transparan.

Langkah ini sempat memicu koreksi tajam, dengan harga Newcastle menyentuh posisi terendah tujuh pekan saat itu.

Alat berat memindahkan batu bara. Sumber: Bandung BeritaKini
Alat berat memindahkan batu bara. Sumber: Bandung BeritaKini

Proyeksi dan outlook ke depan

Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China (CCTD) memproyeksikan impor batu bara China sepanjang 2026 akan turun 5,1% menjadi sekitar 465 juta ton.

Perlambatan ini diperkirakan mendorong China semakin mengandalkan produksi domestik yang sudah mencapai rekor 4,8 miliar ton pada tahun lalu.

Sementara itu, Energy Information Administration (EIA) memproyeksikan permintaan batu bara global mulai melandai menuju 2030 seiring transisi energi yang makin nyata, dengan produksi global diperkirakan turun dari lebih dari 9 miliar ton menjadi sekitar 8,64 miliar ton.

Bagi pelaku industri di daerah penghasil batu bara seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan fluktuasi harga ini berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja dan pendapatan asli daerah.

Kementerian ESDM mencatat PNBP sektor mineral dan batu bara hingga Juni 2025 baru mencapai Rp 68,3 triliun atau 54% dari target Rp 126,48 triliun, sebagian besar akibat harga batu bara yang tertekan sepanjang paruh pertama tahun itu.

 

Yang perlu dipantau

Para pelaku industri dan investor disarankan memantau beberapa indikator kunci: volume impor bulanan China, tingkat stok batu bara di pelabuhan utara China, perkembangan cuaca ekstrem di India yang mendorong permintaan listrik, serta kebijakan kuota produksi dan ekspor Indonesia.

Kombinasi faktor-faktor ini akan menentukan arah harga batu bara dalam jangka pendek, terutama menjelang pergantian musim di belahan bumi utara yang secara historis mendorong lonjakan permintaan energi.


Jasa Pembuatan Website
Jasa Press Release Media Online
Jasa Pembuatan Website UMKM
Pelatihan Digital Marketing untuk UMKM
PixxelPro Digital ID