![]() |
| Mesin ATM Bitcoin dan Ethereum. Sumber: Itez |
UMKM Go
Digital - Bitcoin Depot, operator jaringan ATM
Bitcoin terbesar di dunia, resmi mengajukan perlindungan kebangkrutan
Chapter 11 pada Senin, 18 Mei 2026, di Pengadilan Kebangkrutan AS untuk Distrik
Selatan Texas.
Langkah ini berdampak langsung pada lebih dari 9.000
mesin ATM Bitcoin yang kini statusnya offline secara serentak di seluruh
Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.
Kejatuhan Bitcoin Depot sekaligus menandai guncangan
terbesar dalam sejarah jaringan ATM kripto global, karena perusahaan
berbasis Atlanta ini sebelumnya menguasai 23,8 persen dari total pasar ATM
kripto dunia.
| Keterangan | Nilai |
|---|---|
| Mesin ATM offline | 9.246 |
| Penurunan pendapatan Q1 2026 | 49,2% |
| Kerugian penipuan ATM kripto 2025 | US$389 jt |
Tiga Faktor Pemicu Kebangkrutan
Laporan resmi perusahaan mengidentifikasi tiga faktor utama
yang membuat bisnis Bitcoin Depot tak lagi berkelanjutan.
Pertama, pendapatan kuartal pertama 2026 anjlok 49,2 persen
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba perusahaan yang sebelumnya mencapai US$12,2 juta
berbalik menjadi kerugian US$9,5 juta, sementara laba kotor terpangkas lebih
dari 85 persen menjadi hanya sekitar US$4,5 juta.
Cadangan kas juga menyusut dari US$65,6 juta menjadi US$44
juta dalam waktu singkat. Faktor kedua adalah pengetatan regulasi di berbagai
yurisdiksi.
Aturan baru mengharuskan pembatasan nominal transaksi
sekaligus mewajibkan verifikasi identitas atau Know Your Customer (KYC) yang
sangat ketat.
Beban ini secara langsung menekan volume transaksi di
seluruh jaringan mesin milik perusahaan. Ketiga, Bitcoin Depot
menghadapi tekanan litigasi besar.
Jaksa Agung negara bagian Massachusetts dan Iowa
menggugat perusahaan atas tuduhan memfasilitasi penipuan kripto yang merugikan
konsumen.
Secara global, kerugian akibat penipuan melalui ATM
kripto tercatat mencapai rekor US$389 juta pada 2025, meningkat 58 persen
dari tahun sebelumnya. Gugatan hukum yang harus ditanggung oleh perusahaan itu sendiri
melebihi US$20 juta pada akhir tahun 2025.
Nasib Pengguna dan Transaksi yang Sudah Dikonfirmasi
Bagi pengguna yang pernah bertransaksi melalui jaringan Bitcoin
Depot, transaksi yang telah mendapatkan konfirmasi di blockchain dipastikan
tetap aman karena tidak bergantung pada operasional perusahaan.
Namun, pengguna yang mengalami kendala teknis saat mesin
mulai offline berpotensi kesulitan mendapatkan dukungan pelanggan, mengingat
perusahaan sedang menjalani proses kepailitan.
Masyarakat Indonesia yang ingin bertransaksi aset kripto
sangat disarankan menggunakan platform pedagang aset kripto atau exchange yang
telah terdaftar dan diawasi Bappebti.
Jalur ini menawarkan keamanan lebih terjamin dibandingkan
mesin ATM fisik, termasuk perlindungan regulasi yang jelas apabila terjadi
sengketa.
![]() |
| Seseorang menggunakan ponsel di ATM Bitcoin. Sumber: PintuNews |
Dampak terhadap Jaringan ATM Kripto Global
Kebangkrutan Bitcoin Depot terjadi di tengah tren
penurunan jumlah ATM kripto yang sudah berlangsung sejak awal 2026.
Data Coin ATM Radar menunjukkan jumlah ATM Bitcoin di
Amerika Serikat turun dari 30.788 unit pada 1 Januari 2026 menjadi 30.229 unit
pada 1 April 2026, penurunan sebesar 1,82 persen dalam satu kuartal.
Eropa juga mengalami penurunan yang serupa, dari 1.785 unit
menjadi 1.754 unit dalam periode yang sama.
Operator-operator lain seperti Coinflip dengan 5.493 mesin
dan Athena Bitcoin dengan 4.045 mesin diperkirakan masih beroperasi, meski
kemungkinan besar di bawah pengawasan regulasi yang semakin ketat.
Kolapsnya Bitcoin Depot sebagai pemimpin pasar
membuka pertanyaan besar: apakah model bisnis ATM kripto masih relevan
di era exchange digital yang lebih mudah diakses dan berbiaya lebih rendah?
Bagi komunitas kripto Indonesia, peristiwa ini menjadi
pengingat penting tentang risiko infrastruktur fisik aset digital.
Memilih platform resmi yang terdaftar di Bappebti tetap
menjadi langkah paling aman untuk bertransaksi Bitcoin maupun aset kripto
lainnya.




